Halaman

Senin, 20 Agustus 2012

Essai Tentang Kebudayaan "Seni Sakral Vs. Iptek"




          Dalam dekade tahun yang serba modern saat ini, kebudayaan khususnya kesenian mulai mengendor utamanya dalam masalah aktivitas cipta, ide dan penggarapan kesenian. Kebanyakan orang lebih kagum dengan teknologi dibandingkan kekayaan seni di daerah mereka.
          Dengan semakin canggihnya teknologi mencerminkan semakin tingginya tingkat intelektual manusia saat ini. Arus globalisasi yang menjadikan manusia bersifat konsumtif terhadap teknologi. Hal tersebut tentu saja membawa dampak yang sangat besar terhadap perkembangan kesenian khususnya pada masyarakat Bali. Perkembangan ini tidak saja membawa pengaruh positif, tetapi juga membawa pengaruh yang negatif. Penyebabanya bukan mutlak bersumber dari dunia kesenian, akan tetapi bersumber pada pengaruh globalisasi yang terjadi pada dunia modern ini. Begitu gencarnya perkembangan teknologi menyebabkan semua sendi kehidupan mengalami perubahan yang pesat pula, termasuk kehidupan seni. Sehingga tidak mustahil lagi disana-sini tampak perombakan atau kolaborasi yang bertujuan untuk memberi kepuasan bagi penikmat seni yang telah terkontaminasi oleh pola hidup glamour. Sehingga para seniman mau tak mau harus berpacu dengan perkembangan zaman yang sangat rentan untuk berubah setiap saat. Para seniman juga tak mau kalah untuk mengasah kemampuan mereka dalam menciptakan hasil karya baru yang lebih modern. Pada periode perkembangan tersebut seolah-olah semua orang telah tergerus oleh gaya hidup serba aneh dan unik, karena itulah yang dikehendaki oleh zaman ini.
          Perubahan yang berkepanjangan ini tentu saja akan berdampak sangat luas, sebagai bukti banyak tercetak kader-kader atau seniman yang rentan berubah atau bersifat pragmatis yang merupakan produk zaman perubahan. Bertitik tolak dari fenomena yang terjadi saat ini, utamanya pada kehidupan berkesenian. Dari permasalahan ini kita akan banyak tahu apa yang terjadi pada dunia seni Bali yang telah tertata dengan apik dan sesuai dengan kultur ketimuran serta dibingkai oleh norma-norma agama Hindu yang sangat kental. Dalam masyarakat Bali tak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya kesenian sakral kita sangat kuat mengakar karena keterkaitannya sangat lekat dengan kehidupan keagamaan. Walaupun perubahan yang terjadi hanya sebatas perilaku si seniman saja, namun perlu diwaspadai bahwa perkembangan seni yang bebas suatu saat dapat saja merubah cara pandang umat Hindu di Bali. Karena pada suatu saat tidak tertutup kemungkinan seni sakral akan jarang dipentaskan pada upacara agama dengan alasan dana, jenuh dan lain sebagainya. Hal itu akan sangat mengancam keajegan seni sakral di Bali.
            Untuk itu peran pemerintah dan masyarakat sangat diharapkan dalam pelestarian seni sakral ini. Mengingat kandungan seni sakral ini kaya dengan nilai estetika, filsafat/tatwa agama, dan sebagai pendidikan pada masyarakat. Dengan pementasan seni sakral yang berkepanjangan diharapkan membuka kesadaran masyarakat bahwa mereka sangat membutuhkan peran kesenian sakral dalam kehidupannya. Kebiasaan inilah yang perlu diterapkan dalam usaha menjaga seni sakral dari amukan zaman globalisasi ini, sehingga terhindar dari kepunahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar