Bagai disambar petir di siang bolong, para
peserta ujian akhir kali ini merasa
mendapat beban tambahan yang sulit dipikul. Betapa tidak, program
pemerintah yakni UN yang telah diselenggarakan selama bertahun-tahun menghantui
para peserta didik. Bukan hal yang biasa jikalau UN meneror mereka, namun tahun
ini teror itu semakin menakutkan. Bayangkan saja, UN yang biasanya hanya
terdiri dari 2 paket, kini ditambah 3 paket lagi. Sontak saja hal ini membuat
dag dig dug para siswa. Pelaksanaan UN dengan 2 paket saja sudah membuat siswa
ngeri, apalagi kini dengan 5 paket soal. Memikirkannya saja sudah membuat bulu
kuduk merinding. Inilah yang mungkin membuat semangat siswa melemah.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan program pemerintah
dalam rangka mencerdaskan peserta didik Indonesia, namun hal ini tidaklah
relevan dengan keadaan siswa itu sendiri. Pi hihak lain, dengan adanya
kebijakan pemerintah inilah yang menyebabkan siswa semakin tidak percaya diri.
Mereka terlalu fokus memikirkan masalah paket soal dibandingkan materi yang
harus dikuasai. Padahal, materi tersebut hanyalah mengulang pelajaran dari
kelas X,XI dan XII. Mereka cenderung tidak siap dengan diri mereka sendiri dan
berakibat pada stres yang berkepanjangan. Inilah yang menumbuhkan budaya “kerja
sama” itu sendiri.
Dari tahun ke tahun, hal ini merupakan rahasia umum di
tengah masyarakat. Namun, meskipun sudah umum tetapi tetap bersifat rahasia.
Dan yang lebih mengherankannya lagi tak satu pun orang mau repot-repot
meluruskan kekeliruan ini. Maka jadilah budaya ini merupakan hal yang wajar di
tengah peserta didik. Hal inilah yang menjadi landasan Pemerintah yang
menetapkan UN terdiri atas 5 paket soal. Tetapi bagaimana dengan siswa itu
sendiri? Mungkin mereka kaget dan akan menyiapkan diri mereka lebih matang
lagi. Atau mungkin mereka terkejut sesaat dan selanjutnya bertindak masa bodoh,
toh juga nanti dapat jawaban. Itu mungkin penafsiran mereka, namun bagaimana
jika paket tersebut dibagi secara acak? Nah, inilah yang membuat para siswa
galau. Mungkin mereka akan belajar semakin giat atau mungin akan merenung dan
stres memikirkan 5 paket soal tersebut.
Hal ini mengharuskan siswa untuk dapat berdiri sendiri
meskipun mereka kurang percaya diri. Mereka tidak dapat lagi melakukan “ritual
tukar-menukar jawaban” yang berlangsung selama bertahun-tahun. Tak ada lagi
ritual, berarti tak ada lagi kesenangan, karena hari-hari mereka yang santai
digantikan dengan teror 5 hantu. Kita lihat saja nanti berapa persen siswa yang
mampu lulus secara murni. Pertanyaannya sekarang, apakah program pemerintah ini
dapat berjalan secara efektif dan efisien? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar