Halaman

Senin, 20 Agustus 2012

Artikel Pendidikan UN "Teror 5 Hantu"

             Di tengah pendidikan Indonesia yang morat-marit, peserta didik Indonesia harus siap menghadapi batu sandungan semakin hari semakin besar yaitu Ujian Nasional (UN). Namun dalam pelaksanaannya UN ternyata belum dapat menunjukkan hasil sebagaimana diinginkan, dan kini peserta didik Indonesia merasa seperti diteror “5 Hantu”.


 Bagai disambar petir di siang bolong, para peserta ujian akhir kali ini merasa  mendapat beban tambahan yang sulit dipikul. Betapa tidak, program pemerintah yakni UN yang telah diselenggarakan selama bertahun-tahun menghantui para peserta didik. Bukan hal yang biasa jikalau UN meneror mereka, namun tahun ini teror itu semakin menakutkan. Bayangkan saja, UN yang biasanya hanya terdiri dari 2 paket, kini ditambah 3 paket lagi. Sontak saja hal ini membuat dag dig dug para siswa. Pelaksanaan UN dengan 2 paket saja sudah membuat siswa ngeri, apalagi kini dengan 5 paket soal. Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Inilah yang mungkin membuat semangat siswa melemah.
            Sebenarnya tidak ada yang salah dengan program pemerintah dalam rangka mencerdaskan peserta didik Indonesia, namun hal ini tidaklah relevan dengan keadaan siswa itu sendiri. Pi hihak lain, dengan adanya kebijakan pemerintah inilah yang menyebabkan siswa semakin tidak percaya diri. Mereka terlalu fokus memikirkan masalah paket soal dibandingkan materi yang harus dikuasai. Padahal, materi tersebut hanyalah mengulang pelajaran dari kelas X,XI dan XII. Mereka cenderung tidak siap dengan diri mereka sendiri dan berakibat pada stres yang berkepanjangan. Inilah yang menumbuhkan budaya “kerja sama” itu sendiri.
            Dari tahun ke tahun, hal ini merupakan rahasia umum di tengah masyarakat. Namun, meskipun sudah umum tetapi tetap bersifat rahasia. Dan yang lebih mengherankannya lagi tak satu pun orang mau repot-repot meluruskan kekeliruan ini. Maka jadilah budaya ini merupakan hal yang wajar di tengah peserta didik. Hal inilah yang menjadi landasan Pemerintah yang menetapkan UN terdiri atas 5 paket soal. Tetapi bagaimana dengan siswa itu sendiri? Mungkin mereka kaget dan akan menyiapkan diri mereka lebih matang lagi. Atau mungkin mereka terkejut sesaat dan selanjutnya bertindak masa bodoh, toh juga nanti dapat jawaban. Itu mungkin penafsiran mereka, namun bagaimana jika paket tersebut dibagi secara acak? Nah, inilah yang membuat para siswa galau. Mungkin mereka akan belajar semakin giat atau mungin akan merenung dan stres memikirkan 5 paket soal tersebut.
            Hal ini mengharuskan siswa untuk dapat berdiri sendiri meskipun mereka kurang percaya diri. Mereka tidak dapat lagi melakukan “ritual tukar-menukar jawaban” yang berlangsung selama bertahun-tahun. Tak ada lagi ritual, berarti tak ada lagi kesenangan, karena hari-hari mereka yang santai digantikan dengan teror 5 hantu. Kita lihat saja nanti berapa persen siswa yang mampu lulus secara murni. Pertanyaannya sekarang, apakah program pemerintah ini dapat berjalan secara efektif dan efisien? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar