Halaman

Kamis, 27 September 2012

Cerpen - Senandung Jalan Setapak

Jalan ini masih saja terlihat sepi. Saking sepinya hanya sebuah pohon besar di tepi jalan ini yang hanya bisa ku tatap. Pohon besar tanpa bunga dan buah, bahkan dedaunannya pun mulai minggat dari dahannya. Mengapa suasana kesepian sangat kental terasa di sini? Kemana orang-orang? Hai jalan! Kalau kau sudah tidak diinginkan lagi oleh masyarakat sini lebih baik kau pindah ke  tempat lain yang lebih ramai yang  dimana orang-orangnya  mau menggunakanmu! Ah, gilakah aku bicara pada jalan? Mungkin  aku begini karena lama menunggu seseorang.
             Di jalan setapak yang sepi ini aku bisa apa? Kenapa dia menyuruhku menunggu di sini? Di  tempat lain kan bisa. Tegakah dia membiarkan seorang perempuan duduk sendiri di sini  hanya untuk menuggunya? Belum lagi dengan jam  tangan yang melingkar di tangan kiriku yang selalu mengganggu perhatianku dengan suara detikannya.  Suara itu selalu membuatku gusar. Mungkin kalau dia bisa  bicara dia akan menyuruh ku pulang. Atau mungkin dia juga bosan dari tadi hanya bisa melihat jalan setapak ini. Kata ibuku, mengeluh itu tidak baik, tapi apa yang bisa aku lakukan disaat seperti ini? Amarahku semakin meledak saat  melihat rumput-rumput yang ada di depanku. Bentuknya agak mirip dengan lidah. Mereka seolah menjulurkan lidah mereka padaku. Sangat banyak lidah.
“Eh rumput, kalau berani jangan keroyokan dong. Aku kan hanya punya satu lidah sedangkan kalian banyak. Itu sangat tidak adil.” Kataku dalam hati.
             Suara motor kemudian memalingkan perhatianku pada rumput itu. Sepertinya aku mengenal pria berjaket hitam itu. Aku tahu setelah sampai dia akan bilang apa. Maafkan aku sayang, aku terlambat bangun. Kalau tidak itu pasti sayang aku harus mengantar ibuku ke pasar, atau sayang aku harus membersihkan rumah, dan entah apa lagi alasannya saat terlambat bertemu denganku, sebenarnya itu tidak ingin aku ingat, tapi bagaimana aku tidak ingat, kalau seminggu sekali dia selalu mengucapkan itu. Aku kembali memandangi arlojiku. Jam 11.00. Satu jam aku menunggu di tempat sepi ini. Meski kesal tapi aku lega melihat dia datang.
“Sayang sudah lama menunggu?” tanya Leo padaku.
“Kenapa bertanya seperti itu?”pikirku dalam hati. “Tidak juga sayang. Hanya 60 menit kok, belum sampai 1 jam.”aku mencoba meledeknya.
“Ah sayangku, jangan menggodaku seperti itu. Hehe.” kata Leo padaku.
“Siapa juga yang menggoda kamu! Dasar aneh!” kataku dalam hati. Entah kata-kata apa lagi  yang harus aku katakan dalam hatiku. Maafkan aku ya hati, aku telah membuatmu berdosa. “Sayang kita mau kemana?” tanyaku pada Leo.
“Seperti biasa kita pacaran disini saja yang. Aku sudah membawa beberapa makanan kok, lagian kan suasana di sini sejuk banget.” Kata Leo padaku sambil membuka beberapa bungkusan yang dibawanya.
Ah kapan sih dia berubah? Dia  hanya membuat aku iri pada teman-temanku yang biasanya jalan-jalan ke pantai, restourant, atau ke mal bersama kekasihnya. Aku bosan terus-menerus bersamanya di tempat ini. Tapi apa boleh buat, dia pacarku. Ah aku akan serba salah.”hatiku  terus bicara yang aneh.
“Sayang kok diam sih? Kamu enggak suka ya disini?” Leo menanyakan hal yang seharusnya sudah dia tahu.
“Suka kok yang.” Aku mencoba memberinya senyuman. Tapi tetap saja hatiku kesal.
             Satu tahun telah kami lalui bersama. Kami tak pernah bertengkar, karena memang tak ada hal  yang  harus kamu ributkan. Usia Leo 17 dan aku baru 16 tahun, aku rasa kami sudah dewasa segala sesuatu tidak usah diambil pusing. Seperti  yang sekarang ini, meski kesal aku tak pernah meributkannya. Aku berusaha mengerti semua keinginannya. Kalau dipikir-pikir pasangan  mana lagi yang menjalani pacaran seperti kami.
             Kalau di sekolah kami lebih senang pacaran di perpustakaan dari pada di kantin atau di kelas. Tapi kami seolah lebih asik pacaran dengan buku yang kami sukai masing-masing. Mungkin kalau bukan teman sekelasku atau teman sekelas Leo tak tak akan ada yang mengira kalau aku pacaran dengan Leo.
“Sayang kita pulang  yuk!” kataku pada Leo.
“Ya deh yang. Oh iya, inget bikin PR  ya yang. Aku anterin sayang pulag ya.”
“Ya  yang.” Aku tak menolak ajakannya. Lagian kalau jam segini pulang jalan kaki tentu saja panas tak sejuk lagi seperti tadi pagi. Leo tak berani ngebut kalau  membawa motor. Jadi aku merasa senang bisa lebih lama bersamanya. Aku mendekap erat tubuhnya, dan secara refleks tangannya pun menggenggam tanganku yang melingkar di pinggangnya. Aku menyandarkan pipiku di bahunya. Ya Tuhan terima kasih telah memberikan Leo padaku.
             Tak terasa beberapa menit kami berdua sudah tiba di depan rumahku. Hubungan kami memang telah diketahui oleh orang tuaku. Tapi orang tua Leo belum tahu. Entah kenapa Leo tak memberitahukan hubungan kami pada orang  tuanya? Setiap aku bertanya, dia hanya menjawab “nanti sayang juga tahu”. Hingga aku malas untuk menanyakannya lagi.
“Sayang, kamu gak mampir?” tanyaku pada Leo.
“Lain kali ya yang. Oh iya, besok aku mau jemput kamu. Jadi tunggu aku ya.” Kata Leo padaku.
“Iya yang aku tunggu besok. Da sayang.” Kataku sambil melambaikan tanganku pada Leo. Dia kemudian melaju dengan motornya.
***
             Dua bulan berlalu aku merasa ada yang aneh dengan ingkah laku Leo. Aku tak ingin berpikir negatif terhadap Leo. Ujian Nasional tinggal beberapa minggu lagi, pasti dia sedang sibuk menyiapkan diri untuk berperang dengan soal-soal yang menyebalkan. dia sangat jarang menelponku, jangankan menelpon SMS saja jarang. Yah, apapun yang menunjang kesuksesannya akan aku dukung.
             Beberapa bulan kemudian, hari perpisahan  kelas 3 tiba. Sebenarnya aku tak menginginkan hari ini datang. Dengan langkah yang tak pasti aku melangkah menuju kelasku. Aku tak melihatnya di parkiran. Sudah beberapa bulan ini tak ada kabar darinya. Aku semakin gusar. Leo ini kenapa? Meski sering aku lihat dia, dia hanya melempar senyum palsu padaku. Acara perpisahan di mulai. Aku melihat wajahnya yang sangat aku rindukan. Apa mungkin dia tak menginginkanku lagi? Aku lihat dia berjalan menuju diriku.
“Sayang, setelah pulang sekolah aku ingin bicara sama sayang.” Kata Leo padaku.
“Iya yang.” Jawabku singkat. Mungkin dia ingin memutuskan hubungan denganku. Sepertinya aku harus menguatkan hatiku.
             Acara perpisahan selesai, aku pun menunggu di parkiran. Aku sudah menelpon kakakku untuk tidak menjemputku hari ini. Satu persatu siswa meninggalkan sekolah. Kenapa lama sekali dia datang! Aku melihat teman-temannya lewat dihadapanku.
“Permisi kak, Leo udah pulang belum?” aku bertanya kepada salah satu dari mereka.
“Belum dik dia masih di kelas sendiri. Mendingan adik temuin dia di kelas.”
“Iya kak, terimakasih.”tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju kelasnya. Belum sampai di kelasnya aku sudah berpapasan dengannya. Terlihat mata sendunya mengeluarkan air. Adakah tingkah lakuku yang membuat hatinya terluka? Dia segera berlari menuju aku. Tanpa banyak bicara dia langsung menarik tanganku. Kami berlari  di bawah teriknya sinar matahari. Entah apa yang terjadi pada hatinya. Sakitkah dia? Kalau benar mengapa aku tak pernah ada saat  dia menangis? Pacar macam apa aku ini? Leo segera mengambil motornya, dan menyuruh aku naik. Dia menjalankan motornya dengan kencang, tak pernah sekencang ini. Leo menarik tanganku dan melingkarkannya di pinggangnya. Sesekali Leo mencium tanganku.
             Tiga puluh menit berlalu, aku sangat terkejut. Leo mengajakku ke rumahnya. Sebenarnya apa maksudnya mengajakku kemari? Kami berdua segera masuk. Pegangan Leo semakin erat. Aku sangat tak menyangka dengan apa yang aku lihat. Sofy temanku yang mengenalkan aku pada Leo ada di rumah Leo. Apa yang sedang dibicarakan orang tua Leo dan orang tua Sofy? Apakah ini sebuah pertanda buruk?
“Duduklah Mimi.”kata sofy padaku. Aku seperti orang yang linglung atau aku memang linglung. Aku duduk berdampingan dengan Leo. Entah kenapa tangan Leo semakin erat menggenggam jari jemariku. Sesekali Leo menatapku  dengan mata yang berkaca-kaca. Ada apa sebenarnya ini?
“kamu ini Mimi pacarnya Leo ya?” tanya ibunya leo padaku.
“Iya tante.”aku meraih  tangan ibunya Leo dengan maksud menciumnya agar aku terlihat sopan di depannya. Namun apa yang terjadi? Ibunya Leo malah menolak tanganku. Sedikit demi sedikit aku semakin mengerti maksud Leo “nanti juga sayang tahu.” Ternyata orang  tua Leo tak merestui kami.
“Begini Mimi, tante menyuruh Leo membawa kamu kesini, dengan tujuan kamu tahu kami sudah menjodohkan Leo dengan Sofy. Jadi kalian berdua harus menyudahi hubungan kalian. Tante gak setuju Leo pacaran sama kamu.” Kata ibunya Leo dengan nada sinis.
             Ya Tuhan, hatiku seperti di tusuk pisau berisi racun cinta. Aku tak kuat bicara. Aku berusaha menahan tangisku. Aku tak ingin Leo melihatku menangis. Aku berusaha menyembunyikannya dengan menundukkan kepalaku. Tapi Leo mengangkat daguku dan menghapus air mataku yang tak tertahan lagi. Leo seolah merasakan perasaanku saat itu.
“Jangan menangis.”bisik Leo padaku. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku serta menarik nafasku.
“Tante, om. Kalau memang ini yang terbaik untuk Leo, akan saya lakukan.”aku mencoba menatap mata ibunya Leo dan berbicara pada beliau. Aku memalingkan pandanganku ke arah Leo. “Leo, kalau selama dua tahun ini aku ada salah sama kamu, aku minta maaf ya. Aku seneng bisa kenal sama kamu. melewati hari-hari bersama kamu lebih membuat hariku bermakna. Sekali lagi terima kasih ya Leo.” Aku berusaha menahan tangisanku. “Sofy, selamat ya kamu udah dapetin cowok yang sangat baik.” Aku menggenggam tangan Sofy, aku hanya  ingin dia tahu aku  tak pernah membenci Sofy.
“Terima kasih Mimi.” Kata Sofy
“Om, Tante, saya pamit pulang dulu ya. Leo, aku pulang ya. Permisi.” Aku berdiri dan langsung keluar dari  rumah Leo. Dari jarak satu meter, aku mendengar Leo menangis. Aku mencoba mengirimkan telepati padanya, tapi tak bisa. Ya Tuhan,, jangan biarkan Leo menangis. Aku terus melangkah keluar. Aku tak sanggup melihat kebelakang lagi. Aku berusaha berjalan meski kakiku sudah tak kuat menopang tubuhku yang lemas ini. Melangkah dan terus melangkah, hanya itu yang bisa  aku lakukan. Aku  tak ingin pulang ke rumah, aku tak ingin ibuku melihat mataku yang penuh dengan air mata ini. Aku menuju ke jalan setapak  yang dulu pernah menjadi saksi cintaku dengan Leo. Di bawah pohon  besar ini aku selalu menunggu kedatangannya. Setelah kejadian ini, siapa lagi yang akan aku tunggu di bawah pohon ini.
             Canda tawanya selalu bergema  ditelingaku. Siapa lagi yang akan menemani aku di perpus? Siapa lagi  yang akan menelponku saat aku kesepian? Air mata ini tak bisa terbendung. Aku duduk di jalan setapak ini. Jalan itu masih saja disini? Aku mengelus-elus jalan itu, aku menjatuhkan air mataku di atas jalan itu.
“Hay jalan, apa selama  ini kamu gak kesepian? Aku salut sama kamu, sekian lama sendiri tapi kamu gak kesepian. Kamu gak pernah megeluh seperti aku.”aku membaringkan tubuhku diatas jalan setapak itu. Seolah aku merasakan kesepian yang juga melanda jalan itu. Aku tak akan pernah melupakan kenangan indah di tempat ini bersama Leo dan aku tak akan melupakan jalan setapak dimana aku selalu menunggu kedatangan Leo. Meski raga Leo tak  dapat aku miliki tapi aku yakin hatinya masih menjadi miliku.

Jumat, 21 September 2012

Basa Basita


Basitha Paribasa inggih punika basa rerasmen wiadin panglengut basa. Kanggen panglengut basa sajeroning mabebaosan kalih magegonjakan, sajeroning basa pakraman wiadin basa pasawitrayan.

Seosan ring punika, Sang Kawi sane sampun wibuhing Basa Basitha, tan mari ngunggahang Basitha Paribasa puniki, sakadi Uperenga miwah Pralambang, sane makardi lengut kakawian punika.

Sane ngranjing Basitha Paribasa minakadi :
1. Sesonggan.
2. Sesenggakan.
3. Wewangsalan.
4. Sloka.
5. Bebladbadan.
6. Pepindan
7. Sesawangan.
8. Cecimpedan.
9. Cecangkriman.
10. Sesimbing.
11. Cecangkitan.
12. Raos Ngempelin.
13. sasemon
14. Sipta.
15. Peparikan
16. Sesapan
17. Tetingkesan


1. Sesonggan.
Sesonggan wit ipun saking kruna 'ungguh', sane mateges linggih, genah, wiadin nongos. Kruna ungguh polih paweweh merupa pangiring (akhiran) "an", dados ungguhan sane mateges janji utawi pati. Kruna ungguhan kasandiang (mengalami perubhan sandi suara) dados unggwan. Sajeroning pangucapan kruna unggwan puniki dados unggan. Selantuir ipun kruna unggan puniki polih pangater (awalan) "sa" dados saunggan, taler kasandiang malih dados songgan. Kruna songgan puniki kadwipurwayang dados sesonggan.

Sesonggan puniki sakadi pelambang kahanan kalih polah jadma, sane kaimbangang ring kahanan kalih polah barang wiadin buron. Umpami : "bedug pengorengan". Pengorengan punika wantah wangun utawi kawentenan ipun sakadi punika bedug, meweh antuk ngelegang mangda asah (lurus / datar). Dados ipun suksmannyane : kaucapang ring anak sane kalintang bengkung tur sigug, nenten dados ajahin.

Ring sor puniki wenten conto sesonggan, luir ipun :
1. Taluh apit batu. Suksmannyane : kaucapang ring anake sane magenah ring genahe sane sukil/keweh, singsal agulikan pacang nemu baya.
2. Abias pasih. Suksmannyane : nenten keni utawi nenten sida antuk ngawilangin katahipun biase ring pasih.
3. Blakas mangan di pisaga. Suksmannyane : sakadi anake maduwe painak muani siteng tur anteng, sakewanten ipun magenah ring pisaga.
4. Ngentungan uyah ke pasih. Suksmannyane : kaucapang ring anake sane mapi-mapi ngicenin barang utawi artha ring anak sane sampun sugih.
5. Kuluk ngongkong tuara ngutgut. Suksmannyane : kaucapang ring anake sane sida mawicara manten (ngomong saja), nanging nenten wenten pakaryanne utawi tindakanne.
6. Ngajahin bebek ngelangi. Suksmannyane : kaucapang ring anake sane mapi-mapi ngajahin anak sane sampun wikan utawi duweg.
7. Ngrebutin balung tan paisi. Suksmannyane : ngrebutin brang nenten wenten isine utawi barang sane nenten malih maguna.
8. Buka gowake ngadanin ibane. Suksmannyane : kaucapang ring anake sane sombong, nyapa kadi aku.
9. Liep-liep lipi gadang. Suksmannyane : kaucapang ring anake sane ring pangarepne jemet pisan, sakewanten sujatinne ipun anak sane nenten becik/jahat.
10. Kutal-kutil ikut celeng. Suksmannyane : kaucapang ring pakaryan sane rasane aluh, sakewanten sujatine nak meweh yen kalaksanayang.

2. Sesenggakan.
Sasenggakan puniki pateh sakadi ibarat, ring bahasa Indonesia. Sasenggakan, linggaipun "Senggak", artinipun "Singguk" utawi "Sentil" antuk raos. Senggak polih pangiring "an" dados senggakan, kadwipurwayang dados "Sasenggakan" ngintar basa (kata ungkapan), tegesipun "Babinjulan" makardi ica sang miragi utawi mireng, semalih makardi jengah tur sebet sang kaanggen sasenggakan, antuk keni kasentil manahipun.

Sasenggakan puniki sakadi palambang utawi sasimbing indik kahanan kalih polah janma sane kaimbangan ring kahanan kalih polah buron utawi barang, upami :

Wenten anak mawasta I Balag. Sabilang sangkep ring banjar ipun kiap, nguyuk-uyuk ngengkis raris pules. Indik I Balag puniki raris anggena sasenggakan ring banjaripune. Yen wenten murid kiap nguyuk ring sekolahan, raris kaucapang antuk timpalipune sakadi I Balag. Yening murid punika kalih I Balag miragi dewekipune kaanggen sasenggakan, janten ipun jengah wiadin sebet kabinjulin.

Sasenggakan puniki taler sakadi sesonggan, kewanten binanipun sasenggakan puniki satata kariinin antuk kruna "Buka", tur wenten sane sakadi sampiran ipun. Lengkarane sane riinan dados giing (sampiran), sane apalet pungkuran dados katerangan polah wiadin kahanan, raris kalanturang antuk suksemanipun. Ring asapunipune nenten perlu malih dagingin suksemanipun, antuk sampun terang artinipun. Puniki wenten makudang-kudang imba utawi conto sasenggakan luiripun :
1. Buka bantene, masorohan; suksemanipun : sakadi anake sane madue perusahaan, wantah ngutamayang panyamaanipune kewanten makarya irika.
2. Buka bangken gajahe, joh-joh mabo; suksemanipu : sakadi anake sane mapangkat ageng utawi anak sane sugih, yening katiben antuk sengkala, ortinipune maideh-idehan rauh ka jaba kuta.
3. Buka batun buluane, nglintik tuah abesik; suksemanipun : kaucapang ring anake sane nenten madue nyama wiadin timpal, wantah ipun padidian.
4. Buka be banone, dawanan bungut; suksemanipun : sakadi anake sane demen nuturang wiadin ngraosang omong timpal ring anak lian.
5. Buka benange, kadung suba macelebang; suksemanipun : sakadi anake sane kadung ngambil pakaryan, nyalah-nyalah yening ipun makarya nenten jantos puput.

Ring sor puniki wantah makudang-kudang conto sasenggakan.
1. Buka besine teken sangihane, pada apesne; suksemanipun : sakadi anake sane mapakarya, sang nalih miwah sang sane kadalih, janten sami katahipun nelasang prabeya.
2. Buka bikule, ngutgut sambilang ngupinin; suksemanipun : sakadi anake sane madaya kaon wiadin corah, seka kidik ngambil barang-barang timpalipune, kewanten ipun mapi-mapi nulungin.
3. Buka becicane ujanan, nguci; suksemanipun : sakadi anake sane ngucekcak ngomong nenten karwan tuktuk bongkolipun.
4. Buka bikule pisuhin, sumingkin bejit; suksemanipune : sakadi anake alit-alit kual, yening ajahin wiadin glemekin ipun sumangkin kual.
5. Buka bukite ejohin, katon ngrawit; suksemanipun : sakadi anake pakantenan ipun saking doh jegeg utawi bagus, kewanten wawu tampek tlektekang ipun bodo, muanipune burik.
6. Buka cicinge ngongkong, tuara pingenan nyegut; suksemanipun : sakadi jadmane sane degag ngaku wanen, kewanten jatinpune getap.
7. Buka dedalune, kampid baan nyilih; suksemanipun : sakadi anake sane ngango bungah becik-becik, kewanten jatinipun pangangge punika makasami antuka nyelang.
8. Buka dangap-dangape, gede-gede kayune ogara; suksemanipun : sakadi anake sane gemba katunan bayu miwah gelar (arta), nagih ngambil pakaryan sane ageng kalih akeh pacang nelasang prabeya.
9. Buka entikan oonge, ngulah pesu; suksemanipun : sakadi anake sane ngomong ngawag-ngawag, sane nenten madasar antuk papineh.
10. Buka goake, ngadanin ibane; suksemanipun: sakadi anake sane corah raris nuturang maling (maling teriak maling).
11. Buka jagunge, gedenan ati; suksemanipun : kaucapang ring anake sane sombong tur degag, ngaku wanen utawi sugih.
12. Buka jangkrike, galak di bungut; suksemanipun : sakadi anake sane galak (gati) di omong, kewanten nenten purun ngalaksanayang.
13. Buka kamben madare, liunan bikas; suksemanipun : sakadi anake sane belog ajum parisolahipun tan anut ring tata krama.
14. Buka kamene uwek jaitin, munjuk benang tuna aji; suksemanipun : sakadi anake sane maduwe umah tuduh, raris engsubina antuk upih tuduhipune ical kewanten pakantenan ipun kaon.
15. Buka kambinge ngamah gendola, macueh-cueh; suksemanipun : sakadi anake sane ngajengan sedah wiadin maanci, jantos marues-rues bibih ipune barak.
16. Buka katake matindik, salah genah, suksmaipun : Sakadi anake sane nenten uning nganutang payas dewek wiadin panganggo pakantenanipun tani asin.
17. Buka kasumba Jawane, ngamahin, suksmanipun : Sakadi anake sane kereng madaar kewanten mayus, nenten demen makarya.
18. Buka lindunge uyahin, blangsah, suksmanipun : Sakadi anake sane uyang paling nenten uning-uning nongos.
19. Buka macane (mionge), ngengkebang kuku, suksmanipun : Sakadi anake sane pradnyan (wikan), ngengkebang kepradnyanan (kawikanan).
20. Buka macane, nakutin lawat, suksmanipun : Sakadi anake sane marasa ring dewekipune iwang wiadin corah, setata ipun mrasa congah wiadin takut tur kabilbil.
21. Buka mlali api, mara ngasen kebus, suksmanipun : Sakadi anake sane ngambil pakaryan sane sukeh tur madurgama, risampune ipun sengkala wawu ipun mrasa.
22. Buka makpak tebune, ampsne kutang, suksmanipun : Sakadi anake sane makurenan, ring kantun pangantenan, kalih sasuenne kantun bajang kasayangang tur kajungjung, risampune tua tan mampuh kakutang.
23. Buka naar be ne matah, nglawan-nglawanin, suksmanipun : Sakadi anake sane kapaksa kakenken ngambil pakaryan sane nenten demenin wiadin nenten uningin ipun, punika mapuara nenten becik.
24. Buka naar krupuke, gedenan kroakan, suksmanipun : Sakadi anake sane ngaku wanen kalih jaga muputuang karya, sakewanten nenten wenten buktinipun nglaksanayang.
25. Buka medil kapecite, gedenan bea, suksmanipun : Sakadi anake sane ngambil pakaryan ageng kalih katah nelasang prabea, kewanten pikenoh kalih pikolihipun akidik.
26. Buka nakep balange dadua, maka dadua tuara bakat, suksmanipun : Sakadi anak sane mamanah bingbang akeh mangambil pakaryan wiadin nglamar pakaryan, pamuput makasami nenten keni.
27. Buka negakin gadebonge, ngasa teken jit belus, suksmanipun : Sakadi anake sane ngrasa ring sikian iwang wiadin corah, dados ipun kimud utawi kabilbil (congah).
28. Buka ngae bajune, sikutang ka raga, suksmanipun : Saluiring polah laksana kalih raos, marep ring timpal utawi anak lianan, patut dumun imbanganng ring raga becik miwah kaonipun.
29. Buka ngalih bedigale, ngadu sebeng, suksmanipun : Mangda uning i raga nyidra semu kalih laksana timpal wiadin anak sane darma wiadin krinyi utawi egar wiadin sebet.
30. Buka ngenjekin ikut cicinge, mabalik nyaplok, suksmanipun : Sakadi i bapa ngenken i pianak ngrereh napi-napi, raris i pianak mabalik ngenken bapanipune ngerereh punika.
31. Buka ngetakang joane di batan umah, likad maideh, suksmanipun : Sakadi anake sane kapingsalah ngamargiang kapatutan ring nyama wiadin panyaman sane sampun terang ipun iwang.
32. Buka nyilsil kadelene, liunan pakpak kuangan gelekang, suskmanipun : Agengan pakaryan ring pikolihipun.
33. Buka nyitsit tiinge, amis kecerikan, suksmanipun : Yadin amunapi kapatutan anake sane alitan wiadin sane soran, yening sane agengan kalih kuasa jaga nyisipang, janten ipun pasang sisip.
34. Buka padine misi nguntul, ane puyung nyeleg (sunggar), suksmanipun : Anake sane pradnyan (wikan) alep tur meneng-meneng, kewanten anake sane belog punggung tur sombong ngucekcak.
35. Buka paete, nagih getok, suskmanipun : Sakadi anake sane belog tur nagih perintah kewanten mangda ipun makarya.

3. Wewangsalan.
Wewangsalan puniki pateh sakadi tamsil ring Bahasa Indonesia. Wewangsalan kruna lingganipun "wangsal" sane artinipun "lampah", polih pangiring "an" dados "wangsalan", kaduipurwayang dados "wewangsalan", artinipun lelampahan saparipolah kalih kahanan janma, sakadi sasimbing sane sada pedas suksmanipun.

Wewangsalan puniki kawangun antuk lengkara kalih palet utawi carik. Lengkara sane riinan sakadi "sampiran", indik daging kahiun sang ngucap, kewanten kantun makubda (ilid) suksmanipun. Lengkarane sane pungkuran punika daging sajati, sane nerangan suksmanipun tur mawirama kalih mapurwakanti (bersajak). Wenten taler sane nenten ngucapang lengkarane pungkuran, antuk kasengguh sami anake sampun ngerti ring suksmanipun. Ring asapunapine kawangun antuk lelampahan ring pawayangan. Ki Dalang ngawi satua bawak babaudan, nyimbingin sinalih tunggil sang nonton sane saud (iwang) laksananipun. Wenten taler sane mawangun gambar (karikatur).

Ring sor puniki wenten makudang-kudang wewangsalan luiripun :
1. Asep menyan majagau, suksmanipun = nakep lenggar aji kau
2. Ada tengeh masui kaput, suksmanipun = ada keneh mamunyi takut
3. Bakat kocok misi isen, suksmanipun = awak bocok tuara ngasen
4. Bangbang dadua ken ceburin, suksmanipun = bajang dadua ken anggurin
5. Be lele mawadah kau, suksmanipun = suba jele mara tau
6. Bedeg majemuh bangsing di banjar, suksmanipun = jegeg buin lemuh langsing lanjar
7. Baju gadang potongan gantut, suksmanipun = tuyuh magadang tuara maan entut
8. Buangit kali gangsa, suksmanipun = magae lengit ngamah gasa (kereng)
9. Buah sabo mawadah klukuh, suksmanipun = awak bodo buin angkuh
10. Cekcek poleng temisi bengil, suksmanipun = desek ngereng gisi nengil
11. Clebingkah beten biu, suksmanipun = gumi linggah ajak liu
12. Dagdag candung selem samah, suksmanipun = berag landung kereng ngamah
13. Delemk sangut merdah tualen, suksmanipun = medem bangun ngamah dogen
14. Dija kacang ditu komak, suksmanipun = dija pejang ditu jemak
15. Eber-eber ilih, suksmanipun = bebeger baan nyilih
16. Gamongan kladi jae, suksmanipun = omongan dadi gae
17. Gedenan padange teken gondane, suksmanipun = gedenan tandange teken gobane
18. Gonda godeg bakat kukur, suksmanipun = goba jegeg baan pupur
19. Idup kedele mati kacang, suksmanipun = idup jele mati sayang
20. Jempiit batan biu, suksmanipun = ngajengit ajaka liu

4. Sloka.
Sloka yening ring Bahasa Indonesia pateh sekadi "Bidal". Sloka puniki masaih ring sesonggan, kantun ilid artinipun. Kewanten binanipun, sloka puniki ngengge lengkara; Buka slokane,......., Buka slokane gumine,......., Kadi slokan jagate,........, upami :
1. "Buka slokane, adeng buin sepita, suksmanipun : kaucapang ring anake sane kalintang plapan (tangar) ngraos lan melaksana.
2. "Buka slokan gumine, nundunin macan turu, suksmanipun : sakadi anake sane nantangin musuh sane sampun nengil.
3. "Skadi slokan jagate, sukeh anake ngebatang banjar, suksmanipun : wiakti sukeh pisan anake dados klian jaga ngladenin anak akeh (rakyat).
Puniki malih sloka rin sor :
1. Buka slokane, aji keteng mudah, aji dadua mael, suksmanipun : kaucapang ring anake sane neten uning ngajinin pitresnan kalih paweweh anak lianan (timpal).
2. Buka sloka, ajum-ajuman puuh, sangkure masih ia, suksmanipune : sakadi anake sane beog ajum, pamuput ipun pacang pocol wiadin sengkala.
3. Buka slokane, apa ane pamula, keto ane kapupu, sulsmanipun : napi sane kakaryanin, sapunika taelr pikolehipun; yening melaksana kaon, sinah sengkala sane jagi kapanggih.
4. Buka sloka, bani mabak jepun, eda takut kena getahne, suksmanipun : yening purun ngambil pakaryan sane ageng tur abot, sampunang ajerih pacang manggihin pakeweh utawi kabean ageng.
5. Buka slokane, bantang busuk badingang, apa tuara misi, suksmanipun : kiwangane san elintang, yening mangkin malih medalang wiadin raosang, janten ngakehang kanten kaiwangan ipun.

5. Bebladbadan.
Bebladbadan kruna lingganipun "babad" artinipun tutur jati sane sampun kalampahan riin. Babad taler maarti abas wiadin basang kebo, banteng, utawi kambing. Sasampun polih seselan "el", pangiring "an" lan kaduipurwayang dados bebladbadan sane mateges kruna bebasan, kaanggen papiringan, saha madue purwakanti (bersajak).

Bebladbadan puniki kawangun antuk lengkara utawi kruna tigang palet. Krunane sane pinih riin apalet dados "giing" utawi "bantang", krunane sane kaping kalih apalet, "arti sujati (bebasanipun)", sakadi sampiran, sane ngawangun purwakanti (sajak), krunane sane kaping tiga "arti paribasa", wiadin suksmanipun, makadi :
1. Giing (bantang) : majempong bebek,
2. Arti sujati (bebasanipun) : jambul,
3. Arti paribasa : ngambul.
Dadosne kecap "mbul" ring kruna "jambul", mapurwakanti ring kecap "mbul" ring kruna "ngambul".

Bebladbadan puniki masaih ring "wewangsalan", sakadi papiring indik kahanan kalih laksanan janma, ring asapunapine sada pedas suksmanipun. Kewanten yening anake mabladbadan, artinipun sane sujati nenten kaucapang, antuk kasengguh sami sampun uning ring artinipun.

Ring sor puniki wenten makudang-kudang conto bebladbadan , luiripine :
1. Ketimun pait = paya, arti paribasane = semaya
2. Wayang gadang = Kresna, arti paribasane = tresna
3. Macarang Uga = sambilan, arti paribasane = masambilan
4. Matabeng gelang = tutub, arti paribasane = tutugang
5. Makunyit di alas = temu, arti paribasane = katemu
6. Mabuaya di tegal = alu, arti paribasane = nglalu, kalu
7. Mataluh nyuh = tombong, ati paribasane = sombong
8. Jukut gedebong = ares, arti paribasane = ngeres-eresin
9. Matiuk Jawa = belati, arti paribasane = ngulati
10. Mabatis bebek = gempel, arti paribasane = ngempelin
11. Base wayah = kakap, arti paribasane = gapgapan
12. Mabuah jaka = beluluk, arti paribasane = nguluk-nguluk
13. Mabuah wayah = jebug, arti paribasane = gedebug
14. Mabuah kelor = klentang, arti paribasane = klentangin
15. Mabubuh kladi = kulek, arti paribasane = elek
16. Jaja uli magula = abug, arti paribasane = jebug
17. Maboreh tangkah = buat, arti paribasane = kuat
18. Mablakas peleng = timpas, arti paribasane = mimpas
19. Mabaju tanpa lima = kutang, arti paribasane = kutang
20. Beruk magantung = kakocor, arti paribasane = bocol
21. Maabian Jawa = kebon, arti paribasane = ngebon

6. Pepindan
Papindan punika pateh sakadi Sesawangan, kewanten binanipun papindan kruna punika polih "anu suara", yening sesawangan karahini antuk kruna: buka, kadi, luir, waluya kadi, upami:
1. Papindan: Alise medon intara.
2. Sesawangan: Alise buka (kadi, luir) don intaran.
Papindan tegesipun: gegambaran buka, wiadin yan bandingan pateh mirib teken...., upami: papindan kedis, tegesipun: wangun gambaran mirib kedis. Mapinda sedih, tegesipun: mirib buka anake sedih. Sane dados pepindan, punika kruna aran sane polih anusuara, luir ipun:
1. Boke membotan blayag, tegesipun: rambutne maombak-ombakan.
2. Betekan batise meling padi, tegesipun: sekadi beling padi.
3. Cokore mudak sinungsang, tegesipun: sakadi bungan pudake sungsang.
4. Cecapingane nyaling kdang, tegesipun: mirib caling kidang.
5. Cecingakane natit, tegesipun: sledat-sledet manis.
6. Gigine matun sumangka, tegesipun: mirib batun sumangka.
7. Jrijine musuh bakung, tegesipun: rurus ngancan mirib pusuh bakung.
8. Kupinge nyanggar sekar, tegasipun: karnane becik sumpangin sekar.
9. Kukune memapah biu, tegesipun: kukune mirip papah biu, sada lengkung.
10. Lambene barak ngatirah, tegesipun: lambene mirip buah katirah barak.

7. Sesawangan.
Sesawangan (Perumpamaan)
Sesawangan, lingganipun "sawang", artinipun : mirib, polih pangiring "an", dados sesawangan, raris kadwipurwayang dados "sesawangan", tegesipun : punapa-punapi ugi sane katon (kacingak), raris kalawatang (karasayang) ring kahiun, mirib sakadi solah kalih kahanan janma (mapawongan), upami : kedapan bunga nagasarine maelogan tempuh angin, kasawangan sakadi tangan anak istri ayu ngulapin.

Sawangan = iribang buka..........; masawang kuning = mirib sada kuning agigis. Sesawangan puniki ketahipun ngangge kruna : buka, kadi, tan pendah kadi, waluya kadi, luir, alah, amunan. Sesawangan puniki ring Bahasa Indonesia pateh sekadi perumpamaan. Ring Geguritan Megantaka wenten mungguh :

Pupuh Pangkur
1. Pamargine malonlonan,
nolih kori rakane jua kaesti,
rasanya teka manutug,
nyaup nyangkol ngarasaras,
angin alon mamuat bon bungane arum,
enjunge nyukur katinggalan,
masawang bale kaaksi.
2. Maabah-abah sarwa endah,
malalangse ombake nene titir,
lumute kasampeh liu,
masawang tikeh makebat,
tur makasur bulung-bulunge ne anyud,
kaange ne pacurenggah,
masawang togog di samping.
"Tegesipun : rasanya = manutug; enjunge, masawang : bale; ombake titir, masawang : abah-abah muah langse; bulung-bulunge, masawang : kasur; kaangge pacurenggah, kasawangan : togog."
Ring sor puniki wantah conto-conto sesawangan, luire :
1. Buka bulane kalemahan, suksmanipun : kembang lemlenm.
2. Kadi tunjung tan pawarih, suksmanipun : layu dudus.
3. Luir nyuh gading kembar, suksmanipun : susune sane nyangkil putih gading.
4. Kaya taru ragas tinibeng wresti; taru ragas = kayu ligir, tinibeng wresti = tepen ujan; suksmanipun : sakadi anake kendel polih kasadian.
5. Kadi sulur tempuh angin; sulur = entikan bun; sesawangan bangkiang sane lemuh magelohan.
8. Cecimpedan.
Cacimpedan ring Bahasa Indonesia nika pateh sekadi "Teka-Teki". Cacimpedan puniki anggen pangulir budi, rikala magagonjakan utawi macanda. Linggaipun: "cimped", artinipun: bade (takeh), polih pangiring "an", dados: cimpedan, raris kaduipurwayang, dados: "cacimpedan", artinipun: bade-badean. Cacimpedan puniki sampun ketah utawi lumrah, kariinin antuk lengkara pitaken: Apake......? Ring sor puniki wantah imba utawi conto-conto cacimpedan. Minab wenten sameton sane tau utawi uning ring jawabanne?

Apake.....
1. Apake anak cerik matapel?
2. Anak satak maka satak matlusuk?
3. Anak satak makasatak maudeng putih?
4. Apa anak cerik maid cacing?
5. Apa anak cerik maid enceh?
6. Apa anak bongkok kereng nyuun?
7. Anak cerik pantigang ngurek gumi?
8. Ane kajeps idup, ane nyepes mati?
9. Ane negen nongos, Ane kategen majalan?
10. Ane tegeh dugdugin, ane endep juangin?
11. Apa cekuk kajengitin?
12. Apa cekuk baong godot basangne pesu gending?
13. Apa bale gede matampul abesik?
14. Base alukun ulung seka bidang?
15. Apa don ne amun pedang, buahne amun guungan?
16. Apa don ne srining-srining buahne amun gong?
17. Apa don ne amun tutup, buahne amun sirah?
18. Apa don ne utusan, buahne aturan?
19. Apa don ne amun tlapak lima, buahne amun sigi?
20. Apa di cerikne mapusung, di kelihne magambahan?

Pasaur / arti:
1. Blauk
2. Iga-iga
3. Bungan ambengan
4. Jaum misi benang
5. Caratn
6. Sendi
7. Gangsing
8. Pagehan
9. Pancoran
10. Neraca
11. Caratan
12. Rebab
13. Pajeng
14. Pusuh biu
15. Punyan ental
16. Punyan jempinis
17. Waluh
18. Punyan ental
19. Base
20. Padi

9. Cecangkriman.
Cecangkriman inggih punika cacimpedan sane mabentuk lagu utawi tembang. Biasane ngangge tembang madya utawi pupuh. Umumne ngangge Pupuh Pucung. Minab wenten sametin sane durung polih ngwacen indik cacimpedan, dados driki malih wacen ring artikel tiang indik Cacimpedan. Kenten taler yang durung polih ngwacen indik Pupuh, niki link ne artikel indik Geguritan Utawi Tembang Pupuh. Inggih ring sor niki wantah conto-conto utawi imba Cecangkriman :

Cecangkriman :
1. Bapa Pucung,
Indeng-indeng di alas gunung,
Panake koryak-koryak,
Di kayune ya padingkrik,
Basang pelung,
Tendase majajambulan.
2. Berag landung,
Ngelah panak cenik liu,
Memene slelegang,
Panak ne jekjek enjekin,
Menek tuun,
Mememne gelut gisiang.
3. Jalan buntu,
Tan masepak nolor terus,
Nyen makeneh mentas,
Apang elahang agigis,
Musti blenggu,
Majalan ditu magaang.
4. Ia majujuk,
Katumbak enu majujuk,
Ane numbak ebah,
Laut ngandang ngulintik,
Bes kadurus,
Pangencele mametelang.
5. Kaki Pucung,
Awak bunter maretungtung,
Basange anginan,
Sing paek ye ninjakin,
Uber kepung,
I kaki incang-incangang.
10. Sesimbing.
Sasimbing puniki kruna (ucapan) papiringan sane pedes suksmanipun, makardi sang kasimbing jengah wiadin sebet, riantuk ngrasa ring dewek katiban sasimbing punika. Sasimbing puniki sering kaucapang ring ajeng sang kasimbingin, ngangge kruna paimbangan sane sada silib artinipun, indik kalh polah janma, barang kalih buron. Ri asapunine sasimbing puniki ngangge kruna nungkalik, upami : belog kaucapang ririh, lekig utawi kiul kaucapang anteng. Wenten makudang-kudang sasimbing sane mawangun gancaran miwah tembang upami : "Kadang tan tinolihin", tegesipun : Anake sane ngutamayang dewek ipune kewanten, nenten nglinguang nyama braya.

Ring sor puniki wantah conto-conto sasimbing :
1. Be di pongerangan baang ngeleb; tegesipun : Sakadi anake ngambil anak istri bajang, sampun kakeniang, rikala ipun lenge, anak istri punika malaib.
2. Bas tegeh baan negak, dilabuhe baonge elung; tegesipun :Sakadi anake polih pangkat tegeh, raris nyeled pipis utawi korupsi, ipun katara raris kausanayang makarya tur ipun salah maukum.
3. Yadin amunapi tegeh pakeber badudane, diulungne masih ka taine; tegesipun : Yadin amunapi ageng anake polih kabagian, yening sampun ganti surud kasadianipun, taler ipun mawali tiwas sakadi kuna.
4. Semunne nyukcuk langit; tegsipun : Kaucapang ring anake sane sombong.
5. Sadueg-dued semale makecos, pasti taen ulung; tegesipune : Asapunapi je ririh anake, pasti ipun taen iwang utawi salah.

Conto sasimbing sane mawangun tembang (Geguritan Sampik Ingtay):
1. Aduh beli to kenkenang, uh ban ento ene danda juang beli, sang ja nganggeh nyang adauh, ya I Babah nampi danda, ya I Nyonyah masasimbing saking saru, "Cangkeme tempuh timbungan, sikep galak desek pitik".
2. Dadi beler tong nyak ngamah, jeneng jelma betek malu layah duri, amonto ya raris pesu, ka kantor padidian, bane keweh makita pacang mabanyu, yan majujuk meh katara, yan nyongkok awake pelih.
3. Yan beli kadi ring ayam, kalu bojog mati tegil, mua wanci tembuyukan, ikute regreg carungcung, pantes tongosang di teba, rebut muring, matane bengul pilaran.

11. Cecangkitan.
Cecangkitan puniki lengkara sane nginter artinipun. Katahipun cecangkitan puniki, kaucapang rikala magegonjakan. Ring asapunapine wenten taler anggena melog-melog timpal. Puniki cecangkitan luiripun:
1. Tain cicing dengdeng goreng jaen, tegesipun: 1. Yening dengdenge gorreng sinah jaen, 2. Yening tain cicinge sinah nenten dados goreng.
2. Padange tusing dadi arit, tegesipun: 1. Padange sinah nenten sida dados arit, 2. Yening padange abas antuk arit janten dados.
3. Anake negen tumbak tusing dadi, tegesipun: 1. Yening anake rikala negen napi-napi raris tumbak, janten nenten dados, 2. Kewanten yening anak makta tumbak tegena punika dados.
4. Rumus hitungane makejang sukeh, nanging jalanne makejang tawang, tegesipun: 1. Yening rumus hitungane wiakti sulit (tan kauningin), kewanten jalanne (rurunge) sami kauningin, yening jalan hitungane nenten kauningin.
5. Kapal melabuh madelod, ngenah badajanne, tegesipun: 1. Yening cingakin kapale saking kaler, sinah sisin kapale balerne sane kanten.
6. Ia gelem antudne tusing dadai jalananga, tegesipun: 1. Yening entude sinah nenten dados jalanang, sane kajalanang batis, boya ja entud.
7. Tiang suba lepas uli sekolah, tegesipun: 1. Ipun nglepasin sekolah artine nenten masekolah.
8. Kompek matali gandek, tegesipun: 1. Yening kompeke sane matali nika mawasta gandek.
9. Beh, kakolongane tusing dadi gelekang, tegesipun: 1. Kakolongane sinah nenten dados gelekang, kewanten yening ajeng-ajengan janten dados gelekang.
10. Awak suba bajang enu masih manyonyo, tegesipun: 1. Makasami anake madue nyonyo, boya ja nyeseo nyonyo sakadi anak rare.

12. Raos Ngempelin.
Raos ngempelin, punika kruna sane dempet, tegesipun: kruna sane asiki maarti kakalih, sane asiki maarti sejati, sane asiki artinipun ngintar. Raos ngempelin puniki pateh sekadi cecangkitan, binanipun wantah akidik, kewanten suksmanipun pateh, wantah mangge rikala magagonjakan kewanten. Puniki wenten makudang-kudang raos ngempelin:
1. Benang kamene, jaka di pangkunge, tegesipun: 1. Kamen antuk benang, jaka mentik di pangkunge, 2. Benang kamenen, ajaka di pangkunge.
2. Lamun payu motonan, beli nyelingin, tegesipun: 1. Nyelengin = lakar maan celeng, 2. Nyelengin = ningalin sambilang nyeleng.
3. Yang nguangun arja, tiang ngaluhin, tegesipun: 1. Dadi galuh, 2. Ngaluhin + juru aluh (nongos).
4. Damar bedauh, mati kanginan, tegesipun: 1. Kanginan = genah ipun medangin, 2. kanginan = tempuh angin.
5. Mamula kacang badaja, mentikne nglodlodang, tegesipun: 1. Nglodlodang = entikipun madlodlod, 2. Nglodlodang = sayan ngelodang.
6. Ring dija palungane mangkin?, tegesipun: 1. Palungane = jaga lunga, 2. Palungane = pangamahan bawi.
7. Napi kalih ditu?, tegesipun: 1. Kalih = dadua, 2. Kalih = ka alih.
8. Ia madagang kamulanne suba telah, tegesipun: 1. Kamulane telah = sanggah kamulane kedas, 2. Kamulane telah = pokok dagangene sampun telas (rugi).
9. Ida dimatuke simpang di pura, tegesipun: 1. Dimantuke = dawegne mantuk (budal), 2. Dimantuke = diman tuke.
10. Madaarsanan malu dini, tegesipun: 1. Daar sanan = pesan madaar dini, 2. daar sanan = naar sanan.

13. Sasemon
Sasemon punika taler sakadi Sasimbing, sakewanten lebih alus lengut tur nudut kayun. Sasemon puniki wenten sane mawangun tembang, utawi gancaran, sakadi ring sor puniki :
Taruna : "Beh apa kaden melah bunga nagasarine ento, yan tiang
maan ngubuhin bungane ento, ap kaden liang atine".
Taruni : "Apa perlune ngubuhin kayu buka kene, ane tanpaguna, tulen
bena lakar tuyuh nyampatang luu sai-sai".

Wenten sasemon negngge Sekar macapat (Sekar alit) luir ipun :

Pupuh Ginada
1. Tiang mriki ngrereh "bunga"
kocap wenten "cempaka putih"
iriki genahnya reko
kocap luih warnanipun
nawang tranggana ngadika
inggih wiakti
"nanging dereng masamaya alap".
2. Sasendone kadi ring sipta
"dumadak ya ulung jani
delima wantane ento
akayih tengahin dalu
titiang masesangi nyangga
baan kacing
titiang suka metoh jiwa".
3. Raden Galuh weruh sipta
kenyung raris nyaurin
"lamun paingenan reko
madia latrine ya ulung
di pekene ya tibeninnya
soring bingi
manakti apang pasaja".

14. Sipta
Sipta puniki wangsit wiadin ciri-ciri sekala miwah niskala, becik wiadin kaon, sane wenten arti kalih suksmanipun. Sipta puniki kawedarang antuk barang sane wenten ring jagate, buron miwah pripen kalih polah. Ring asapunapine taler wenten saking bawan jagat alih ring pakahyunan, upami :
1. Yening wenten bintang kukus kanten ring langite kangin, punika kocap sipta (pertanda) kaon.
2. Yening wenten buron alasan makadi kidang, manjangan ngranjing ka desa, punika kicap sipta kaon.
3. Yening paksi culik-culik masuara kala wengi, nenten kasaurin olih i tuhu-tuhu, punika kocap sipta (praciri) kaon.
4. Yening wenten anak nganten, raris rauh pajati, makta damar kalih pacanangan (pabuan), punika taler sipta, makadi suksmanipun :
o Damar = galang apadang, saking rahayu nunas galang.
o Pamor = apuh, ampura, nunas ampura
o Base = sedah, serdah, seica, apang sueca
o Buah = pala, pikolih, apang mapikolih
o Temako = seseban, sebseb, teduh, nunas paneduh
o Gambir = jambe rateng, tembe (benjangan) mangda puput.

Pupuh Ginada
1. Beli Nyoman dewan titiang
matangi titiang mangipi
I Jayaprana lingnia alon
punapi ipian i ratu
Ni Layonsari angucap
titiang ngipi
"umahe anyudang blabar." (sipta kaon)
2. "Sadaging umahe telas"
ipiang titiang mangeraris
kaon kojarannya reko
eda beli luas kauh
tan urungan beli pejah
laut ngeling
Ni Layonsari sigsigan.

15. Peparikan.
Peparikan pateh sakadi Wewangsalan, kewanten binanipun weangsalan punika wantah kalih palet (carik), yening peparikan kawangun antuk petang palet dados apada (satu bait), taler mawirama miwah mapurwakanti. Peparikan puniki pateh sakadi "madah" ring kasusastran Indonesia. Yening sihang ipun minab sakadi "Pantun", antuk "ri", punika sering masilur dados "ntun", sakadi; sari, dados = santun. Peparikan, kruna lingganipun "parik", artinipun; awi (karang), polih pangiring "an" dados parikan, kadwipurwayang dados: peparikan, artinipun: awi-awian utwai reragragan.

Peparikan puniki taler sakadi sasimbing indik kahanan kalih polah janma, kawangun antuk lengkara petang carik dados apada (satu bait). Lengkarane sane riinan kalih carik dados "sampiran", lengkarane pungkuran sane kalih carik dados arti sejatine, saha mawirama purwakanti, (a-b, a-b). Purwakanti punika wenten tatiga, luiripun: Purwakanti sastra, Purwakanti basa, Purwakanti suara, sakadi:
1. Purwakanti sastra
Doyan liang ngandong kanji (a)
depang tiang ngaba pitu (b)
yan tiang ngelong janji (a)
apang tiang kena tantu. (b)
Aksara "ji" ring kruna "kanji", makanti ring "ji" ring kuna "janji".
Aksara "tu" ring kruna "pitu", makanti ring "tu" ring kruna "tantu".
2. Purwakanti basa
Meli gabus duang kranjang
lamben bodag sing ngenyakin
yadin bagus mata kranjang
enyen kodag mangenyakin.
Mata "kranjang" makanti ring kruna duang "kranjang".
kodag "ngenyakin" makan ti ring kruna sing "ngenyakin".
3. Purwakanti suara
Dengdenge kurma lua
jaene ditu plapahin
adeng-adeng magama tua
gaene malu plajahin.
Suara "a" ring kruna "tua", mapurwakanti ring "a" ring kruna "lua"
suara "in" ring kruna "plajahin", mapurwakanti ring "in" ring kruna "plajahin".
16. Sesapan
Sesapan tegesnyane nyapatin, sane matetujon nglungsur karahajengan, mangda nenten keni bencana. Kawentenan sesapan manut tetujonnyane, minakadi :

Sesapan ngebah taru :
"Ratu Betara Sangkara, titiang nglungsur taru druene, mangda titiang nenten tulah."

Sesapan suara kedis caak :
"Kakasang ngengsut di ambune."

Sesapan si jabang bayi :
"Ratu Paduka Betara Brahma, icenin raren titiange pasikepan mangda ipun setata rahayu."

Sesapan sabeh bales :
"Kaki-kaki bentuyung sampunang kasiabange titiang, tiang cucun kakine."

Sesapan ngentasin genah tenget :
"Jero sane nuenang genahe/margine, tiang nyelang genahe icen tiang karahajengan."

Sesapan ri kala sungkan, wenten dongkan mamunyi :
"Ih, apa not iba yening ada anak makeneh rahayu, mai, sakewala yening tusing rahayu bakal cotot matane apang kanti buta."

Sesapan ri kala mireng suaran paksi tuhu-tuhu :
"Buncul agung sepit semprong tuara bakatanga."

Sesapan mabebaosan, masuara cek-ceke :
"Sidi Saraswati."

Sesapan angin baret, angin nglinus :
"Ratu Betara Bayu sampunang nglintangi riki, santukan titiang akeh madue anak alit."

Sesapan ri kala ngadol ingon-ingon utawi wewalungan :
"Ratu Sang Hyang Rare Angon, ingon-ingon I Ratu adol titiang nglungsur karahajengan."

Sesapan ri kala molihang pantun duene :
Ratu Betara Sri, Titiang ngaturang yadnya, mangda titiang rahayu."

Sesapan ri kala Tumpek Uduh :
"Kaki-kaki dadong jumah?
Jumah.
Anak engken?
Anak Gelem.
Gelem Engken?
Gelem nged.. nged.. nged.. nged.."


17. Tetingkesan
Tetingkesan punika kruna basa ngandap kasor, tegesnyané bebaos sané kanggén ri kala ngandapang raga.
Conto:
(1) “Durusang malinggih Pak, kanggéang nénten wénten genah malinggih!” Kawéntenannyané, genah sané wénten becik, kursi empuk saha resik.
(2) “Sameton sami, duaning sampun galah, ngiring ka perantenan, kanggéang ulamnyané tasik-tasik manten!”
Kawéntenannyané, ajengané madaging reramon makéh pisan.
(3) “Durus unggahang, kanggéang toyané tabah!”
Yakti-yakti nénten wénten gohnyané, duaning genah warung sané ngadol sanganan doh.

MITOS GERHANA BULAN

          Hampir semua orang di belahan bumi ini tidak  asing dengan kata gerhana bulan. Menurut mereka itu bukanlah hal yang aneh ditelinga  mereka. Disetiap kemunculannya selalu mengundang keinginan orang-orang untuk dapat melihat langsung fenomena alam yang satu ini.
         
             Menurut penelitian para ilmuan, gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.Gerhana bulan ada beberapa macam. Sebagaimana kita ketahui gerhana bulan ada empat macam,  yaitu: gerhana bulan total, gerhana bulan sebagian, gerhana bulan penumbral penuh, dan yang terakhir ada gerhana bulan penumbral sebagian. Perbedaan jenis-jenis gerhana bulan tersebut terletak pada bayangan Bumi mana yang jatuh ke permukaan Bulan saat fase maksimum gerhana terjadi. Pada peristiwa gerhana bulan, seringkali bulan masih dapat terlihat. Ini dikarenakan masih adanya sinar matahari yang dibelokkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi. Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga, jingga, ataupun coklat. Gerhana bulan dapat diamati dengan mata telanjang dan tidak berbahaya sama sekali. Gerhana bulan total tersebut dapat dinikmati sekitar 1 jam 40 menit, sedangkan fase umbra yaitu parsial – total dapat dinikmati selama 3 jam lebih. Seperti yang diketahui di Jakarta pernah terjadi gerhana bulan total. Menurut masyarakat, pada saat gerhana bulan berakhir langit terlihat lebih cerah. Cerahnya langit membuat bulan terlihat lebih indah dengan warna kemerahan serta berukuran cukup besar.
          Meskipun telah dijelaskan melalui penelitian, sebagian masyarakat masih percaya terhadap mitos-mitos yang beredar tentang gerhana bulan. Mereka sering mengkaitkan terjadinya fenomena gerhana bulan dengan adanya batara (raksasa) yang melahap sang bulan dan untuk menakut-nakuti sang batara banyak orang orang yang memukul lesung hal itu bertujuan agar sang batara memuntahkan kembali sang bulan seperti semula. Selain mitos tersebut ada juga mitos yang menyebutkan bahwa ketika terjadi gerhana bulan para ibu hamil diwajibkan untuk sembunyi di kolong tempat tidur, konon hal itu dilakukan agar janin yang dikangungnya tidak hialang (dimakan sang batara) . Selain itu ada mitos juga yang menyebutkan jika sedang terjadi gerhana bulan bagi yang ingin cepet tinggi mesti lompat-lompat dan bergantungan di pintu supaya kita bisa cepet tinggi.
            Selain di Indonesia, di negara lain pun memiliki mitos tersendiri tentang gerhana  bulan. Di China, orang percaya bahwa seekor naga langit membanjiri sungai dengan darah lalu menelannya. Sampai abad ke 19, orang China biasa membunyikan petasan untuk menakut-nakuti sang naga. Sementara, suku Indian juga percaya bahwa seekor naga lah yang membuat gerhana bulan. Mereka lalu menyembah sang naga dengan berendam sampai setengah leher.Di negeri matahari terbit, Jepang, orang percaya bahwa waktu gerhana ada racun yang disebarkan ke bumi. Dan untuk menghindari air di bumi terkontaminasi racun,  mereka menutupi sumur-sumur mereka.Mitos gerhana juga menyebar ke Eropa. Dikabarkan, Raja Louis dari Perancis wafat setelah mengamati gerhana di tahun 840. Konon ia begitu bingung saat kegelapan selama 5 menit dan meninggal karena begitu takut. Ada lagi cerita menarik soal gerhana bulan. Cerita ini melibatkan sang penemu Benua Amerika, Columbus. Saat itu, perbekalan pasukan Columbus makin menipis, penduduk lokal enggan membagi bahan makanan milik mereka. Dengan berbekal almanak buatan Regiomontanus, Columbus mengetahu bahwa pada 29 Februari 1504 akan terjadi gerhana bulan total.Kepada pemimpin lokal, dia mengatakan bahwa Tuhan marah pada masyarakat lokal karena mereka tak mau memberikan bahan makanan mereka. Caranya, dengan melenyapkan bulan. Benar saja, bulan lenyap dari langit. Beberapa saat kemudian, bulan muncul dengan bentuknya yang mengerikan, merah seperti darah. Penduduk asli pun ketakutan dan menganggap apa yang dikatakan Columbus terbukti. Dari segala arah, penduduk mendatangi kapal Columbus, menyembah-nyembah, dan mempersembahkan bahan makanan, dengan harapan Tuhan tak lagi marah dan mengembalikan kondisi bulan.
          Nah sekarang terserah anda. Masihkah anda percaya akan mitos-mitos tersebut? Percaya atau tidak, yang terpenting kita harus mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Fenomena gerhana bulan ini hanya satu dari begitu banyaknya ciptaan-Nya, yang menyadarkan kita betapa agungnya Tuhan kita.